Bulan Biru
Di antara tidur dan terbangun, ada tempat yang tak punya nama. Aku sering ke sana tanpa sengaja.
Jam tiga kurang.
Aku masih di sini dengan segelas air yang tak kuminum dan pikiran yang tak mau diparkir.
Menunggu apa.
Tidak tahu.
Mungkin tak ada.
Mungkin itu masalahnya.
Ada dua aku malam ini.
Yang satu lelap tidur.
Yang satu duduk dalam gelap, dan merasa gelap lebih jujur dari siang manapun yang pernah kujalani.
Bawah sadar malam ini seperti kota yang kukenal, tapi semua jalannya berpindah.
Aku belok kanan dan sampai di suatu tempat yang harusnya sudah lama kutinggalkan.
Ada wajah-wajah.
Tak semuanya orang masih hidup.
Tak semuanya orang yang pernah ada.
Beberapa mungkin hanya bagian dari aku yang tak pernah kuberi ruang untuk bicara.
Dan malam ini mereka menagih.
Tentang apa yang belum diajarkan malam pada bulan biru.
Apakah perihal gelap dan sunyi.
Dan perihal betapa kamu pada akhirnya bertemu dirimu sendiri tanpa berpura-pura ada urusan lain.
Di antara tidur dan terbangun, ada tempat yang tak punya nama.
Aku sering ke sana
tanpa sengaja.
Di sana waktu tak berangkat ke mana-mana.
Di sana semua yang belum selesai duduk bersebelahan dengan semua yang tidak akan pernah selesai.
Dan keduanya terlihat sama saja.
Fajar nanti datang dan aku akan pura-pura semalam tak terjadi apa-apa.
Minum kopi.
Buka telepon.
Nonton film.
Tapi di suatu tempat, di dalam dada ada yang tahu.
Semalam aku pergi ke tempat yang dalam.
Lalu pulang membawa sesuatu yang belum tahu apa namanya.
Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.



