Bapak, Aku dan Ibu

Meski Bapak merahasiakannya dari Ibu,Ibu menerimanya dengan lapang dada dan sangat memahami, jika Bapak merahasiakan pernikahannya denganmu agar kami tidak ada yang terluka."

Bapak, Aku dan Ibu
Gambar diambil di Pixabay.com

"Saya terima nikahnya Yanti Putri Hapsari dengan mas kawin....." ucap bapak tegas sambil menggenggam erat tangan penghulu.

 

Disampingnya, aku dibalut kebaya putih sederhana begitupun Bapak gagah memakai jas abu sewarna dengan celananya.

Tak ada janur,kursi tamu,apalagi undangan,hanya aku,Bapak,penghulu dan beberapa saksi.

 

Tak terasa sudah sampai hari ini, setelah melewati berpuluh purnama, dan aku mulai memasuki kelas sebelas.

 

Tetiba teringat peristiwa saat Bapak menikahiku,peristiwa yang mengubah seluruh duniaku.

 

Yah kalau diingat ingat seperti dalam mimpi saja,aku yang cuma seorang remaja,baru kelas sepuluh, sudah berani memutuskan sesuatu yang teramat sakral dalam perjalanan hidup, sendirian,tanpa berfikir lama dan meminta pendapat dari orang lain.

 

Setelah akad,kami langsung  pulang ke rumah kontrakan,

Sambil menutup pintu, Bapak lalu memelukku,bisiknya 

"neng sekarang neng sudah menjadi istri Bapak,neng bahagia tidak?"

 

Aku juga memeluk Bapak sambil menyenderkan kepala ke dadanya "iya pak aku bahagia,Bapak janji tidak akan meninggalkan neng kan," kataku pelan sambil kutatap seraut wajah rupawan meski telah berumur.

 

"Iya Bapak janji akan selalu menjaga neng,"

kata bapak sambil mencium kening, kemudian tangan yang mengusap kepala turun memegang dagu dan perlahan bibirnya menyentuh bibirku.

 

Duh... badanku terasa panas dingin,seperti melayang,kaki serasa tidak menapak ketanah,tubuhku sedikit limbung andai tidak di peluk oleh Bapak mungkin aku sudah terjatuh.  

 

Bapak juga menandai kalendar,waktu itu dia bertanya,kapan hari pertama haid.

 

"Buat apa pak," tanyaku dengan polosnya

"Buat hitungan KB neng,biar neng nggak langsung hamil,kan neng masih sekolah."

 

Oh begitu,aku memang masih sangat polos waktu itu belum pernah sekalipun berciuman,having sex,apalagi berfikir tentang kehamilan.

 

Bapak sangat sabar mengajariku.

Selama seminggu,hampir setiap hari beliau ke kontrakan, perlahan satu persatu beliau menyentuh setiap detail lekuk tubuhku tanpa terburu buru sampai aku merasa nyaman sekali bersamanya

 

 

Setiap hari setelah pulang sekolah,Bapak sudah ada dikontrakan,membawa makanan kesukaan,lalu makan siang bareng,membantu mengerjakan tugas sekolah sambil memelukku dari belakang menciumi belakang leherku,meniup telingaku,menbuatku geli geli gimana gitu.

 

"Neng nggak usah malu ya,kan Bapak sudah jadi suami neng" bisiknya sambil meraba dadaku perlahan memelintir ujung payudaraku membuat dadaku bergetar hebat tapi perlahan aku mulai menikmatinya.

 

Lalu mengajakku mandi bareng,suatu sore aku sedang dikamar mandi dan tidak dikunci,tiba tiba Bapak masuk hanya memakai handuk 

 

"neng hayu kita mandi," ajak Bapak,dengan sedikit malu aku mengiyakan dan itu untuk pertama kali aku bisa melihat tubuh Bapak polos tanpa baju,begitupun aku,tapi sampai hari itu kami belum melakukan hubungan suami istri.

 

Kami hanya saling membersihkan badan,Bapak menyabuni seluruh tubuhku dan gantian aku juga menyabuni seluruh tubuh Bapak,kami tertawa diantara canggung dan malu.

 

Sampai hari ketujuh entah kenapa sore itu aku menjadi sangat bergairah

Aku malah yang memulai duluan untuk menciumi bapak sampai akhirnya tak sadar,

 

Bayangan dua tubuh yang menyatu tergambar samar diantara redup lampu malam,bersama seiring gerimis hujan membasahi genteng kontrakan tapi tetap saja tak meredami  tetes peluh  berpadu diantara dua tubuh.

 

  

Tak sadar, aku memeluk bapak erat, menancapkan jari jariku kepundaknya, ketika ada sensasi geli, nyeri, linu, merambat dibawar pusarku saat Bapak seperti memasukkan sesuatu.  

 

Hingga diakhir permainan diantara hela nafas yang tak beraturan, terdengar pelan erangan Bapak,serta sesuatu yang hangat memenuhi rahimku.

 

Bapak memang sangat berpengalaman sampai bisa membuat gadis polos semacam aku perlahan bisa menikmati hubungan suami istri. 

 

Hari demi terasa semakin indah saja,meski terkadang Bapak datang cuma seminggu sekali tapi aku sudah sangat bahagia.

 

Bapak juga memberi nafkah uang yang cukup besar setiap bulannya,meskipun sebetulnya aku tidak terlalu membutuhkannya,karena uang pensiun dari almarhum ayah serta hasil panen dari sawah sudah sangat berlebih.

 

Dan aku juga bukan tipe perempuan yang boros dan banyak gaya,meski sekarang aku sudah mengenal skincare dan segala jenis kosmetika,tapi aku hanya menggunakan  dengan seperlunya saja.

 

Aku memakai lipstik jika ada Bapak berkunjung,itu juga karena Bapak yang membelikanku seperangkat kosmetik lengkap.

 

Suatu hari saat Bapak akan pulang dia berkata, "neng Ibu pingin bertemu,dia pingin kenal dengan asisten Bapak"

 

"Ibu...? Ibu siapa pak ?," tanyaku

 

"Ibu istri Bapak," jawab Bapak

 

"Tapi pak,saya malu,duh gimana ya,

Gimana kalau aku grogi, lalu salah jawab, lalu ketahuan, kan bisa berabe nanti,"jawabku dalam kebingungan.

 

"Begini..., setiap tahun kami selalu mengadakan syukuran, kebetulan anak anak kami tidak bisa datang karena kesibukan masing masing,"

 

"Karenanya ibu pingin mengundang orang orang terdekat dari lingkar perusahaan dan yayasan yang kami miliki. 

Dan yang Ibu tahu kan neng  sudah cukup lama jadi asisten Bapak,makanya ibu pingin ketemu sama neng."

 

"Kalau neng tidak datang malah nanti jadi pertanyaan dan Ibu bisa curiga," 

"tenang aja Ibu orangnya baik kok," kata Bapak berusaha menenangkanku.

 

"Oh oke kalau begitu ,neng akan menghadiri acara syukuran keluarga Bapak," jawabku meski ada rasa khawatir dan malu  bercampur membuncah dihati.

 

Dan tibalah pada hari, hari yang cukup mendebarkan, karena aku akan bertemu Ibu, yang notabene adalah maduku. 

 

"Duh gimana ini," degup jantungku berdetak lebih kencang,serasa mau pecah saja.

 

Tapi perlahan semua itu berubah menjadi tenang ketika dengan ramah tanpa dibuat buat

Kedua tangan Ibu  menyambutku dengan senyum terkembang.

 

Beliau memelukku erat,mencium pipi kanan pipi kiri,sambil berkata

 

"Oh ini asisten Bapak...,namanya siapa," "yanti bu ," jawabku

"cantiknya alami ya, terimakasih ya, sudah sabar menjadi asisten Bapak"

 

Perlahan ritme detak jantungku yang sedari tadi tak beraturan kembali mulai tenang, semuanya berjalan dengan baik,

Ibu mengenalkan ku dengan beberapa koleganya,bahkan aku duduk disamping Ibu sampai acara selesai.

 

Sebelum pulang Ibu kembali memelukku sambil berbisik "sering sering main kesini ya yanti biar Ibu ada temen buat bikin kue atau sekedar minum teh."

 

 "Iya Bu",jawabku sambil salim menjabat tangannya.

 

Dan dari hari ke hari ada saja alasan beliau agar aku bisa mengunjunginya,dari bantuin bikin kue,bantuin masak,atau sekedar bantuin merawat tanaman baru yang  beraneka ragam di taman rumahnya.

 

Sesungguhnya aku sangat bahagia,bisa bersama Ibu,karena kebaikan dan ketulusannya, mengingatkan ku pada almarhum ibu kandungku,

Tapi semuanya berubah menjadi kesedihan saat kembali kusadari Ibu itu maduku.

 

Ah..seandainya saja Ibu bukan maduku mungkin tak ada perasaan bersalah yang merambati perasaanku, setiap kali melihat senyum tulus Ibu,yang semakin hari semakin sayang terhadapku.

 

Setiap kali pulang dari rumah Ibu ada saja hadiah yang diberikan kepadaku,dari buku memasak,kue,baju, tanaman beraneka macam yang memenuhi halaman kontrakanku,hingga uang yang kerap kali kutolak,tapi pasti ibu akan memaksa dengan menyelipkan di tasku.

 

"Ya Allah.. aku harus bagaimana,disisi lain aku bahagia menjadi istri Bapak dan juga bisa mengenal Ibu,tapi disatu sisi aku merasa seperti penghianat yang menari nari diatas penderitaan seorang istri dan ibu yang sangat baik hati," suara hati ini terus bekecamuk didalam dada.

 

Hingga tibalah pada hari kelulusan, Alhamdulillah aku lulus,tadinya aku pingin langsung kuliah tetapi dengan beban pikiran yang terus memenuhi fikiranku,

 

Aku mencoba menenangkan diri dengan pulang kerumah tanpa memberi tahu Bapak,

smartphone aku sengaja matikan,aku benar benar ingin menenangkan hati dan fikiran.

 

Hari ketiga Bapak berhasil menemukanku,terlihat raut mukanya penuh kecemasan "kenapa neng,ada apa,Bapak sudah cari kemana mana," runtutan pertanyaan terlontar dari mulut Bapak.

 

"Neng bingung Pak,neng  merasa bersalah,neng merasa seperti penghianat kepada Ibu," 

"neng nggak tahu harus bagaimana," jawabku dalam isak derai air mata.

 

Bapak hanya terdiam lalu perlahan berkata "maafkan Bapak ya neng,Bapak tidak tahu jika kenyataan ini, bisa  membuat neng terjatuh dalam kesedihan dan kebingungan yang teramat dalam,maafkan Bapak ya neng,".

 

Aku masih terisak sambil nanar mataku menatap Bapak "tolong tinggalin neng dulu,beri waktu agar bisa menenangkan hati, bisa kan pak," pintaku pada Bapak.

 

"Baiklah neng,jika itu yang neng mau,tapi smartphone jangan dimatikan ya,"jawab Bapak.

 

Aku mengantarkan Bapak sampai ke pintu mobil dan perlahan seiring adzan magrib mobil itu pergi menghilang diujung jalan.

 

Bapak tetap menghubungiku lewat email,kadang lewat WA,sekedar menanyakan keadaanku dan bertanya kapan beliau bisa menjemputku.

 

Tapi aku tak banyak meresponnya,terkadang hanya kubalas dengan emote tertawa,dan tulisan bahwa aku masih ingin disini.

 

Hingga dihari ke tujuh dimasa liburan tiba tiba datang tamu yang tak pernah diduga,

 

Ibu datang mengunjungiku,aku kaget setengah mati,aku segera membalas pelukannya,lama kupeluk beliau sambil kutahan tahan agar air mata ini tidak tumpah.

 

Setelah kusajikan teh manis panas dan kue kue ala kadarnya dimeja,kami duduk berhadapan lalu beliau memulai percakapan.

 

"Yanti sudah beberapa hari ini Bapak terlihat murung,tadinya Ibu tidak tahu kenapa Bapak bisa murung,hingga akhirnya ibu bertanya,ternyata Bapak murung karena yanti pulang dan menjauhi Bapak."

 

"Bapak diam seribu basa,ketika Ibu bertanya kenapa yanti bisa pulang, apa sebelumnya ada masalah,atau ada apa,tapi bapak tetap diam."

 

Lalu,Ibu merasa ini kebenaran ini sudah saatnya untuk diungkapkan bahwa sesungguhnya....,

 

Ibu sudah tahu segalanya,ibu sudah tahu pernikahan yanti dengan Bapak bahkan semenjak hari pertama Bapak mengucap ijab kabul kepada yanti.

 

"Jadi begini,  Ibu pingin cerita, semenjak muda Bapak adalah pria yang sangat energik baik dalam pekerjaan maupun urusan diranjang,

ketika sama sama masih muda ibu masih bisa mengimbangi semua keinginan Bapak,tapi seiring waktu ada yang berubah pada diri Ibu,pada kemampuan Ibu untuk melayani Bapak di ranjang."

 

"Dan ibu menyadari itu,karena semenjak Ibu berubah,sepertinya kebahagiaan Bapak juga seperti berkurang,meski Bapak terus menyangkal setiap kali Ibu tanya."

 

"Ibu bahkan pernah menyarankan agar Bapak menikah lagi,karena Ibu khawatir Bapak mencari pelampiasan dengan perempuan lain tapi dengan cara yang kurang baik.

Tapi Bapak selalu menolak,Bapak selalu menyakinkan Ibu bahwa dia tidak apa apa.

 

Walau Ibu tahu kebahagiaan Bapak sedikit  berkurang tapi Bapak melakukannya agar tidak melukai perasaan Ibu."

 

"Hingga suatu hari Ibu mendengar Bapak menikah lagi,sungguh Ibu bahagia dan ikhlas sekali.

 

Meski Bapak merahasiakannya dari Ibu,Ibu menerimanya dengan lapang dada dan  sangat memahami, jika Bapak merahasiakan pernikahannya denganmu,agar kami tidak ada yang terluka."

 

"Yanti kamu harus tahu, semenjak pernikahan Bapak dengan yanti,terlihat kehidupan Bapak menjadi lebih bahagia."

 

"Dan tentu bahagianya Bapak juga bahagianya Ibu,

hingga seiring waktu Ibu menjadi penasaran seperti apa perempuan yang sudah merubah kemuraman Bapak menjadi kebahagiaan itu."

 

"Dan setelah Ibu bertemu denganmu,Ibu paham mengapa Bapak sangat bahagia denganmu,Bapak tidak salah pilih, kamu memang perempuan yang baik,yang meski sangat muda tapi terlihat sangat dewasa dan mau menerima bapak apa adanya."

 

"Kamu tidak banyak menuntut,baik dari segi materi atau waktu bertemu yang sedikit yang bisa diberikan oleh Bapak."

 

"Kamu memang perempuan luar biasa, perempuan pilihan,dan sangat pantas untuk menjadi istri Bapak dan juga teman berbagi buat Ibu."

 

"Terima kasih...,terima kasih," kata ibu sambil memelukku erat.

 

Aku hanya bisa terisak,tak kuasa lagi kutahan air mata ini.air mata bahagia.

 

*lima tahun kemudian*

 

"Linda,sini sayang makan dulu,sini jangan ganggu eyang mamah,nanti kena duri lho tanganmu" kataku sambil memanggil linda putriku yang masih berusia empat tahun yang  sibuk ngrecokin Ibu ditaman.

 

"Nggak pa pa ya lin,sini sayang,"kata Ibu sambil memeluk linda dan membawanya padaku.

 

Ya setelah peristiwa itu Bapak menikahiku secara resmi setahun kemudian Linda lahir melengkapi kebahagian kami,aku Bapak dan Ibu.

 

*******

Oh iya Linda memanggil Ibu dengan panggilan eyang mamah serta memanggil Bapak dengan panggilan Babah dan memanggilku dengan panggilan Ibu.

 

Aku dan Linda tinggal  disebuah rumah terpisah tapi dekat dengan rumah Ibu.

 

Dan hampir setiap hari aku mengunjungi Ibu karena Linda sangat dekat dengan mamah neneknya.