Tabungan Rindu Untuk Jingga

Tabungan Rindu Untuk Jingga

Perkenalkan, namaku Jingga. Kata Ibu aku cantik. Ibu bilang mataku bagus seperti mata Ayah, bibirku juga kata Ibu seperti Ayah. Badanku yang tinggi juga seperti Ayah. Cuma rambutku yng ikal panjang yang mirip seperti Ibu. Terlebih bila kami mengikatnya serupa ekor kuda, sudah pasti sama persis. Yay! Dari semua kemiripan antara Ayah dan Ibu, aku sangat bahagia bila disamakan dengan Ibu.

Kalian penasaran, kan? Kenapa aku sangat ingin mirip seperti Ibu? Karena Ibu Mayang adalah Ibu Peri. Dia adalah Ibu para bidadari, baik hati, selalu tersenyum, pintar memasak, selalu memelukku dalam keadaan apapun. Tangan kami selalu bertautan, aku tak ingin pisah jauh dari Ibu Mayang.

Kata Ayah, Ibu Mayang adalah hadiah dari Allah untukku, juga untuk Ayah. Ibu Mayang dikirim Tuhan untuk kami berdua. Sejak Ibu Mayang tinggal di rumah, kami bahagia sekali. Ibu Mayang tiap pagi mengantar aku ke sekolah, kami jalan berdua bergandengan tangan menyusuri banyak gang di kampung. Tiap ada yang menyapa, Ibu Mayang selalu ramah membalasnya. Aku selalu bangga berjalan di sampingnya. Kali ini aku ingin berjalan jauh, memutari kampung agar semua orang tahu aku mempunyai Ibu Mayang.

Pulang sekolah Ibu Mayang sudah menungguku di pohon nangka yang teduh, kemudian aku akan berlari menghapiri Ibu Mayang dan langsung masuk dalam dekapannya. Di peluk Ibu Mayang adalah kebahagiaan, aku akan mendekapnya erat sambil tertawa. Lalu kami berjalan pulang di bawah payung yang sama. Karena kata Ibu Mayang pakai payung itu tidak hanya saat hujan, tetapi panas pun kita harus pakai payung.

Aku jadi malas bermain di luar rumah, aku hanya ingin berdua dengan Ibu Mayang. Kadang Ibu Mayang membacakan aku cerita, kemudian ia akan membuatkan aku pisang goreng, bahkan kadang kami berdua menghabiskan waktu bermain air di saluran irigasi di ujung kampung. Tidak hanya berdua, pernah juga kami bertiga bersama Ayah mandi di saluran irigasi. Airnya yang bening dan dingin terasa segar di kulit.

Ibu Mayang tak pernah habis ide untuk membuat kami tertawa. Bila Ayah libur kami lebih suka menghabiskan waktu di rumah, duduk nonton film bertiga, membuat kursi kayu di kebun belakang, menanam singkong, tomat, cabai, juga kemangi adalah agenda wajib kami. Entahlah, kami merasa betah di rumah, menghiasi rumah dengan berbagai macam tanaman hingga rumah menjadi asri. Itu semua terjadi sejak ada Ibu Mayang di rumah kami.

"Tapi beneran lho ya, Ibu datang nengok di tempat kamping? Janji ya, Ibu datang?" tanyaku bertubi-tubi, sambil menggengam tangan Ibu Mayang dengan erat.

"Iya, insyaallah Ibu dan Ayah datang nengok Jingga," ucap Ibu Mayang dengan senyumnya.

"Semua perlengkapan sudah siap. Kemah empat hari itu pasti bakal bikin Jingga senang. Punya pengalaman tidur di tenda, punya kenangan masak nasi sendiri, mencari kayu bakar, terus yang paling utama Jingga bakal lebih mandiri setelah pulang kamping besok.” Ibu Mayang mengelus kepalaku.

"Ibu senang ya, pisah sama Jingga? Ibu gak kangen sama Jingga?" balasku merajuk.

"Karena Ibu sayang banget sama Jingga, makanya Ibu harus ikhlas Jingga pergi kemah. Kalau Ibu gak sayang, Ibu gak akan kasih Ayah ijin tanda tangan di surat pernyataan kemarin.”

"Dulu Eyang juga kasih ijin Ibu pergi kemah?" tanyaku iseng.

Mayang mengangguk sambil tertawa. "Eyang malah gak pergi nengok ke tempat kemah, karena Eyang percaya Ibu Mayang pasti berani di sana.”

"Tapi Jingga mau Ibu datang. Beneran ya? Janji ...." pintaku memelas.

Dipeluknya aku gadis semata wayangnya. Lama aku didekap sambil digoyang-goyangkannya tubuhku itu bagai menimang. Ini adalah ritual Ibu dan aku bila kami akan berpisah, semacam salam perpisahan. Di manapun mereka berada bila tiba saat berpisah ini akan dilakukannya. Ayah melihat itu cuma dapat tersenyum karena setelah Ibu Mayang, Ayah pun akan melakukan hal yang sama pada padaku.

Itu cuilan kisah saat aku akan berpisah dengan Ibu Mayang dan Ayah untuk acara kemah sekolah.

*****

Ada satu cerita yang tak pernah aku lupakan. Saat itu aku dan Ayah pergi ke kota menjemput Ibu Mayang. Ini terjadi beberapa tahun lalu saat aku masih kecil. Tiba-tiba Ibu Mayang pamit padaku, ia bilang ia hendak pergi ke kota untuk menyelesaikan segala urusan agar bisa secepatnya tinggal bersama kami.

Aku menangis sepanjang hari, aku tidak mau makan apapun bahkan ketika Ayah rela memenuhi kulkas dengan es krim dan cokelat kesukaanku. Sebelum pergi Ibu Mayang membelikan aku boneka kelinci sebagai temanku di saat Ibu Mayang pergi. Aku tetap menagis, waktu terasa panjang sekali. Tiap saat aku selalu bertanya pada Ayah kapan Ibu Mayang kembali. Karenanya Ayah menyerah lalu menelpon Ibu Mayang. Aku akhirnya mendengar lagi suara lembutnya membujukku untuk makan, menyanyikan lagu saat aku akan tidur dan esok harinya aku tetap menagis sedih.

Tibalah saat Ayah mengajakku ke kota. Aku memakai pakaian terindahku, duduk manis di samping Ayah dengan hati berdebar. Aku bahkan tidak pernah tahu perjalanan ke kota itu sejauh apa, seingatku aku tertidur di perjalanan hingga tiga kali terbangun pun kota belum sampai. Aku tak berani merengek pada Ayah, aku menjadi anak manis. Saat itu bahkan semangkuk soto yang dibelikan Ayah aku lahap habis cepat-cepat demi berjumpa segera dengan Ibu Mayang.

Sampailah kami di sebuah rumah yang sangat besar, ada banyak kamar di sana. Aku mengira akan langsung dipeluk oleh Ibu Mayang yang sudah menunggu di dalam rumah bagus itu, ternyata tidak. Aku harus menunggu karena saat itu Ibu Mayang sedang bekerja di kantor, dan nanti akan datang menghampiri kami di sini setelah selesai. Belakangan ini aku tahu rumah mewah dan bagus itu bernama hotel.

Menjelang malam, saat aku sedang tertidur di kasur empuk dan luas itu, keningku terasa dikecup, dan aku mencium bau wangi yang sangat aku kenal. Itu wangi Ibu Mayang yang sangat aku suka. Dan benar saja mataku terbuka aku melihat wajah cantik yang sangat aku rindukan. Kami berpelukan lama sekali.

"Ibu Mayang jangan pergi lagi, ya? Jingga nangis, lho," rajukku manja.

"Ibu Mayang ikut pulang, ya? Kota jauh sekali."

"Ibu Mayang jangan ninggalin Jingga, ya?" pintaku pada wanita cantik itu dan selalu dijawab senyum serta anggukan.

Malam itu adalah malam terindah, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku tidur dipeluk Ibu Mayang. Punggungku dielusnya dengan kasih, embusan napasnya terasa hangat saat menerpa keningku, suaranya lembut saat menuntunku membaca doa sebelum tidur, dan aku tahu Ayah tidur di sampingku dengan rasa bahagia.

Untuk pertama kalinya aku merasa menjadi anak yang paling bahagia memiliki Ibu dan Ayah serta kami tidur dalam kasur yang sama dengan penuh cinta.

Kalian tahu? Malam itu aku bermimpi diterangi bulan hingga mataku silau oleh sinarnya, dan kemudian setelah dewasa aku sadar bulan dalam mimpiku itu adalah Ibu Mayang.

Aku tak pernah bisa melupakan bagaimana kami pulang ke kampung dengan membawa Ibu Mayang didalam mobil ayah. Sepanjang jalan aku dipeluknya, saat makan di restoran aku disuapi dengan kasih, bahkan aku tak perduli sejauh apapun perjalanan kami aku merasa nyaman tidur dalam dekapan atau terlelap di pangkuannya. Sejak saat itu bila hatiku gundah ,tak ada tempat paling nyaman selain pelukan Ibu Mayang, menyandarkan kepala di dadanya, mendengar detak jantungnya adalah rindu, lebih tepatnya obat rindu.

Sejak Ibu Mayang berada bersama kami, tempat yang paling nyaman adalah rumah. Aku tak pernah ingin bermain lama di luar, selalu menengok ke pintu pagar memastikan di teras ada Ibu Mayang yang mengawasiku bermain. Hal yang paling aku nantikan adalah saat makan bersama di meja makan. Selalu ada masakan istimewa untuk aku dan Ayah, walau aku tak pernah rewel soal menu makanan, karena sebelumnya aku sangat terbiasa hanya makan dengan telur ceplok buatan Ayah. Yang kadang pinggirannya terlalu kering, atau bahkan tengahnya belum matang sempurna. Tak jarang juga Ayah lupa memberi garam hingga rasanya hambar, tetapi kami akan tertawa berdua melihat Ayah bergaya koki saat memasak telur ceplok gosong hingga aku selalu membubuhi kata, "Ayah, Jingga mau telur ceplok matang sempurna". Kata Ayah itu mantra yang harus aku ucapkan agar telurnya bisa sesuai permintaan dalam mantra, dan hasilnya tetap saja sesuai kondisi pinggiran gosong atau kuning belum matang.

Tidak hanya menu yang menjadi banyak pilihan, suasana rumah benar-benar berbeda. Ibu Mayang menaruh pot bunga secara bergantian di setiap sudut rumah, bahkan di kamar mandi pun tampak pot kecil yang menghiasi, dan aku punya tugas menyirami tiap sore. Tak pernah lagi aku melihat tumpukan pakaian kotor milik aku dan Ayah, apalagi ritual Ayah tiap pagi yang berkeliling rumah mencari pasangan kaos kakinya.

Sungguh kadang aku merindukan keriuhan Ayah saat mencari kaos kaki sembari menyeterika seragam kerjanya, tapi sejak ada Ibu Mayang, aku dan Ayah selalu keluar rumah dengan pakaian rapi dan harum. Rambutku menjadi tontonan di sekolah karena Ibu Mayang dengan telaten akan menghias rambutku. Menyisirnya dengan rapi serta merubah gaya tatanan rambut setiap hari dengan gaya berbeda. Kadang kepang dua, kepang seribu, ikat air mancur, ikat kepang dengan model unik membuat teman-teman takjub. Tidak lagi hanya ikat ekor kuda, karena hanya itu keahlian Ayah yang ternyata ikat ekor kuda itu mengingatkan Ayah pada gaya rambut Ibu Mayang saat sekolah dulu.

Aku Jingga, gadis yang kata Ibu Mayang bermata bulat indah. Aku bercerita tentang bagaimana mata ini gelisah mencari sosok yang paling aku cintai di dunia ini yaitu Ayah dan Ibuku. Tiap hari penerimaan raport aku akan berdiri di pintu gerbang, menunggu datangnya Ayah dan Ibu ke sekolah. Tidak susah mencari sosok mereka berdua, karena Ayah yang gagah akan berjalan di samping Ibu Mayang yang cantik dan selalu berpakaian rapi. Mereka sungguh pasangan sempurna. Rambut Ibu selalu tampak rapi, dengan hiasan bando atau jepit mutiara di samping telinganya. Wajah Ibu tampak cantik berseri, mereka selalu bergandengan tangan saat melewati lorong sekolah dan aku akan berdiri menanti mereka di ujung sambil merentangkan tangan berharap pelukan mereka.

Aku tak pernah malu melakukan itu, walau tampak seperti anak kecil, tapi biarlah aku bahagia dalam dekapan Ayah dan Ibu. Yang paling membahagiakan adalah saat namaku dipanggil oleh Ibu guru sebagai murid dengan peringkat terbaik di kelas. Aku akan melirik ke arah Ayah dan Ibu kemudian mendapatkan senyum mereka serta kecup jauh dari Ibu sebagai ucapan selamat. Demi momen itu aku berjanji untuk belajar dengan giat agar selalu melihat mereka tersenyum bahagia.

Bagiku memberi nilai bagus itu adalah kado untuk Ayah dan Ibu. Sebab aku belum bisa memberi mereka apapun selain itu.

"Jingga, belajar itu harus ikhlas, jangan terpaksa biar ilmunya nempel di otak dan di hati," itu pesan Ibu Mayang tiap aku manyun dan bosan belajar. Tanpa diminta, tiap mengerjakan tugas Ibu Mayang selalu ada di sampingku, menemaniku walau hingga larut malam. Bagaimana aku bisa menjadi malas belajar? Bila ada bidadari di sampingku yang siap sedia menemaniku walau matanya mengantuk?

Tetapi kalian jangan kaget, aku pun pernah dimarahi oleh Ibu Mayang hingga di akhir kemarahannya Ibu Mayang memelukku dan kami menangis bersama. Aku selalu ingat kejadian itu, saat aku tanpa pamit pergi ke desa sebelah bermain bersama teman-teman. Saat itu ada rasa risau karena belum berpamitan, tetapi temanku menyakinkan aku bahwa Ibu tidak akan marah asalkan pulang tidak terlalu malam.

Ternyata sore hari saat aku pulang, di teras aku sudah melihat Ibu Mayang duduk dengan gelisah menanti aku. Begitu aku membuka pintu pagar, Ibu Mayang berdiri tanpa senyum dia langsung menyuruhku masuk, dan setengah berteriak dia menyuruhku mandi. Aku yang tak pernah melihat Ibu Mayang marah sontak menangis ketakutan. Benar saja Ibu Mayang tidak mempedulikan tangisku, dengan emosi Ibu Mayang memarahiku dengan banyak ucapan yang aku lupa karena ketakutan.

Selesai mandi, aku masih melihat raut wajah kemarahan Ibu Mayang hingga aku tak berani menatapnya. Tak disangka Ibu mendekapku dan menangis mengatakan, "Jingga, jangan diulang lagi, ya? Ibu takut sekali Jingga hilang diculik orang. Kalau Jingga hilang, Ibu Mayang bisa mati," isaknya.

"Jingga kalau mau main bilang Ibu dulu, biar Ibu tahu Jingga main di mana. Jangan pernah diulang ya, Nak. Ibu takut kehilangan Jingga." Suaranya sangat memilukan dan kami berdua menangis bersama dalam pelukan.

Aku berjanji tak akan pernah mengulang kenakalanku lagi, aku tak ingin melihat Ibu Mayang menangis karena ulahku, aku tak ingin Ibu Mayang mati karena aku.

Ada banyak kisah tentang Ibu Mayang. Wanita yang aku panggil dengan sebutan Ibu, wanita cantik yang selalu memelukku, yang selalu membelaku, yang selalu mengelus rambutku bila Ayah sedang memarahiku, wanita yang siap membagikan kasihnya untuk aku dan Ayah.

Aku tak pernah menyangka Tuhan begitu baik mengirimkan Ibu Mayang pada kami.

Kejadian kemarin malam membuktikan bahwa Ibu Mayang adalah bidadari untuk aku dan Ayah. Aku duduk di lantai membuka album foto pernikahan Ayah dan Ibu. Tak ada pelaminan, tak ada dekor selayaknya pesta dalam foto itu. Yang ada hanya Ayah, tampak gagah dengan baju koko putihnya serta peci hitam dan kain yang dikenakannya, lalu ada Ibu Mayang dengan kebaya putih sederhana. Rambutnya di sanggul cepol sederhana dan juga riasan wajah Ibu yang natural semua tampak sederhana. Aku saat itu bahkan hanya memakai gaun putih dengan rambut digerai dengan bando putih sebagai pemanis.

Dalam foto lama itu, aku, Ayah dan Ibu tampak tersenyum bahagia. Di semua foto aku selalu ada dalam dekapan Ibu Mayang. Bahkan saat Ibu bersalaman dengan tamu, aku selalu ada di samping Ibu.

"Ibu, kenapa Jingga selalu dipeluk dalam foto-foto ini?" tanyaku.

"Lho, kan, Jingga memang dompet Ibu," jawab Ibu sambil tersenyum.

"Ibu ke mana waktu Jingga masih bayi?" tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja.

"Waktu Jingga masih bayi, Ibu sedang di kota," jawab Ibu Mayang sambil mendekatiku dan ikut duduk di sampingku.

"Kenapa Ibu Mayang tidak ada?" tanyaku masih penasaran.

"Waktu Jingga masih bayi kan, ada Ayah dan Ibu Andini yang nemenin Jingga. Makanya Ibu Mayang gak ada, karena Ibu Mayang yakin Jingga pasti aman bersama Ayah dan Ibu Andini. Tapi waktu Ibu Mayang tahu kalau Ibu Andini sudah pergi ke surga, barulah Ibu Mayang datang buat peluk Jingga, buat nemenin Jingga dan Ayah," ujar Ibu Mayang dengan tersenyum.

Tanpa diminta aku langsung meringkuk dalam pelukannya. Aku Jingga, anak gadis yang saat ini berumur 15 tahun. Harus menerima jawaban atas segala pertanyaan yang tak mampu aku pecahkan sendiri.

"Ibu ... apakah benar Ayah dan Ibu Mayang dulu berpisah karena ada Jingga dalam perut Ibu Andini?" Aku bertanya, tapi tak berani menatap wajah Ibu Mayang.

"Benar, Sayangku ... waktu itu Ibu Mayang harus pergi, agar Ayah dan Ibu Andini bisa bahagia menanti kelahiranmu. Ibu Mayang harus memberi waktu untuk Ayah dan Ibu Andini bersama. Ibu Mayang juga perlu waktu menyendiri, makanya pergi ke kota dan bekerja di sana," jawabnya lembut sambil membelai rambutku.

"Sekarang Jingga sudah besar, jadi harus tahu apa yang terjadi. Jingga itu buah cinta Ayah dan Ibu Andini, yang menjadi kado terindah untuk Ibu Mayang. Waktu pertama kali melihat Jingga di sekolah, Ibu Mayang sudah langsung jatuh cinta pada Jingga," ucap Ibu Mayang.

"Jingga tahu? Ayah adalah cinta pertama Ibu, dulu waktu kami masih sama-sama remaja. Jingga juga cinta pertama Ibu saat Ibu sudah dewasa, saat Ibu sudah mengerti dan paham kehidupan di luar sana. Jadi, Ayah dan Jingga adalah cinta pertama untuk Ibu," kata-kata yang begitu sejuk didengar terasa tulus bagai awan putih di langit biru.

Dari apa hati wanita ini dibuat oleh Tuhan? Mengapa tak pernah ada amarah? Betapa beruntungnya kami memiliki wanita ini.

"Ibu ... marah pada Jingga?" tanyaku sambil terisak.

"Kenapa harus marah? Jingga bukan kesalahan, Jingga adalah buah cinta. Waktu, Ayah dan Ibu Andini bersama, Tuhan punya rencana lain untuk Ibu Mayang. Diberikan Ibu Mayang kekuatan untuk menjadi wanita pekerja. Diberikan Ibu Mayang waktu sendiri untuk menabung rindu. Mengumpulkan setiap rindu untuk Jingga dan Ayah. Hingga saat kita berjumpa bisa kita nikmati bertiga selamanya," ucap wanita cantik yang aku panggil Ibu ini dengan penuh kasih.

Aku memeluknya sambil terisak, bila Ibu Mayang bisa menabung rindu untukku walau hatinya sedang terluka, maka aku harus bisa membalas dengan menabung cinta untuknya dan Ayah, agar aku bisa selalu membuatnya bahagia.

Percayalah aku bahwa kami memang ditakdirkan untuk saling berbagi kasih.

Apapun kisah masa lalunya, yang aku percaya adalah bahwa hari ini kami tak terpisahkan. Bahkan setiap orang selalu menyapaku dengan panggilan, "Mayang Kecil", karena tingkah lakuku semua seperti Ibu Mayang. Aku percaya, apapun yang terjadi aku akan selalu menjadi bagian dari kasih sayang mereka, seperti mereka yang selalu menjadi bagian dari cintaku. Kami saling melengkapi.