Malam itu saya tiba di rumah pukul 10. Sangat lelah, tapi masih ingin minum teh panas sebelum mandi dan lompat ke kasur. Air pun saya jerang. Tapi, tak terasa saya jatuh tertidur. Terbangun gara-gara Kamoy, kucing saya, menggaruk-garuk muka saya dengan kuku-kuku tajamnya.
Saya terlompat bangun, ingat kalau tadi menjerang air. Lari ke dapur. Panci kecil perebus air masih di atas kompor nan menyala garang. Isinya kosong sudah. Warna panci yang semula hijau, kini menjadi kuning. Cepat-cepat saya matikan kompornya. Bahkan kenobnya sudah terasa panas. Tengok jam, waktu menunjukan lewat dari pukul 2 tengah malam. 4 jam lamanya saya memasak panci. Waduh, bahaya sekali!!! Bersyukur tak ada kecelakaan. Lega rasanya.
Meski tak permah selama itu lagi, hal serupa masih kerap terjadi. Akhirnya, saya menyerah. Mengikuti saran seorang sepupu, saya beli teko listrik. Yang otomatis akan off begitu air mendidih.
Pada suatu hari, seperti hari-hari biasa lainnya, saya masak air untuk bikin teh. Dengan teko listrik. Saat menutup lemari kaca tempat perabot, saya melihat pantulan nyala api kemerahan yang mencemaskan di belakang saya. Seingat saya, tidak ada yang sedang dimasak di atas kompor. Kenapa donk kompor menyala, dengan api yang sangat merah begitu?
Saya berbalik, dan hampir pengsan melihat pemdangan di atas kompor. Tahu apa yang terjadi? Rupanya, tanpa sadar, alih-alih menempatkan teko listrik di dudukannya, saya meletakannya di atas kompor, dan menyalakan kompornya. Hikz...
Selamat berpisah, teko listrik. Terima kasih atas darma baktimu yang pendek itu.