Lelaki yang Menunggu di Dermaga

Lelaki yang Menunggu di Dermaga

"Siapa lelaki itu? Mengapa setiap hari aku melihatnya berdiri di atas batu dekat dermaga itu?" tanya Embun pada Riaz, pemuda tanggung yang ditugasi oleh kepala dusun sebagai pemandu Embun selama berada di desa ini.

"Itu Puang Biru, dia selalu berada di dermaga hampir setiap sore. Dia menunggu kapal yang datang," ujar Riaz dengan suara setengah berteriak agar Embun bisa mendengar suaranya.

Angin di pantai sudah seminggu ini sangat kencang. Kalau kata penduduk desa, angin seperti ini membawa banyak ikan dari laut seberang, para nelayan sangat senang dengan cuaca seperti ini.

"Bukankah dermaga itu sudah lama tak dipakai? Mana ada kapal yang akan bersandar?" balas Embun sambil matanya tetap memandang sosok lelaki yang berdiri di batu dekat dermaga.

"Begitulah, Puang Biru tetap yakin kapal akan bersandar membawa anak dan istrinya kembali pulang.”

Penjelasan ini membuat Embun penasaran, kembali pulang? Memangnya anak dan istrinya pergi ke mana? Sudah berapa lama dia pergi? Dan banyak lagi pertanyaan. Sore ini Embun menghabiskan waktunya duduk di pantai sambil menikmati senja, diselingi mengambil foto indah yang ditemani Riaz.

Saat mentari benar-benar tenggelam, udara terasa tambah dingin. Embun mengajak Riaz kembali pulang ke pondoknya. Tak lupa dibelikannya jagung bakar untuk Riaz dan dua orang adiknya yang juga sering datang ke pondok Embun hanya untuk sekedar menemani Embun belajar dan menyelesaikan laporan.

Tugas akhir kuliahnya membuat Embun harus bisa mengabdi di desa ini. Sebagai guru desa Embun harus bisa mengajar anak-anak di desa terpencil ini. Desa yang berada di pulau kecil di tengah laut, penduduk desa yang menggantungkan hidup dari laut. Ya, hampir seluruh penduduk pulau ini menjadi nelayan. Tinggal di pulau ini membuat Embun belajar banyak hal, yang utama tentang kesederhanaan.

Sekolah desa hanya memiliki murid tidak lebih dari 50 siswa yang terbagi menjadi 6 kelas. Tak lebih dari 10 siswa tiap kelasnya, semua tampak sederhana. Jangan harapkan siswa berpakaian lengkap bila ke sekolah, tak ada siswa yang memakai sepatu bahkan pemandangan biasa melihat mereka ke sekolah dengan sandal kebesaran milik orang tuanya, bahkan tanpa alas kaki. Pakaian seragam mereka adalah pakain bermain, kecuali pakaian untuk mengaji yang tampak lebih istimewa.

Sekolah yang mereka gunakan untuk belajar adalah sebuah bagunan biasa yang setengah tembok dan setengahnya bedek anyaman bambu. Meski begitu sekolah dengan bangunan kusam yang memiliki halaman luas dengan padang rumput serta ditanami pohon kelapa itu tampak sejuk sekali. Terkadang gerombolan sapi milik warga tampak di halaman sekolah. Sudah tak aneh bila anak-anak belajar sambil mengembala sapi milik orang tuanya. Bahkan yang membuat Embun merasa senang mengajar di pulau ini adalah dia dengan leluasa bisa meminta anak muridnya untuk memanjat pohon kelapa dan meminum air kelapa segar di kala siang yang terik, sungguh pengalaman yang sangat mahal yang tak ingin dia gantikan dengan apapun juga.

Namun tak biasanya, siang ini terdengar keributan di halaman sekolah saat Embun sedang mengajar. Itu membuat semua murid berhamburan keluar kelas.

"Ada apa, Pak?" teriak Embun pada Pak Idris guru senior di sekolah.

"Kuda Puang Biru lepas, kudanya mengamuk. Anak-anak jangan ada yang ke halaman ya!" teriak Pak Idris.

"Kebun singkong di belakang rusak, mungkin Puang Biru tidak tahu kudanya lepas," lanjut Pak Idris lagi.

"Kenapa tidak ditangkap?" tanya Embun yang tampak panik.

"Ada lima kuda, bisa mati kalau aku menagkapnya sendirian," sahut Pak Idris.

"Segera laporkan pada pemiliknya, itu membahayakan kita semua," ujar Embun.

Tanpa mendengar Embun, Pak idris langsung berlari mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju rumah Puang Biru di ujung desa dekat pantai.

Sementara Embun dan beberapa guru menenangkan serta menjaga anak-anak agar tidak ada yang keluar kelas, sambil berharap cemas melihat lima ekor kuda berlari kesana-kemari di sekitar sekolah. Tanaman obat dan sayur yang sengaja ditanam oleh siswa dan guru sebagai bahan percobaan hancur terinjak oleh kuda yang mengamuk.

*****

Dor! Dor! Dor!

Bunyi tembakan di udara menambah ketakutan siswa yang melihat kejadian siang itu. Beberapa orang berusaha mengejar kuda, seperti para koboi dalam film, adegan itu tampak menakutkan. Empat ekor kuda berhasil ditaklukkan dan sudah dibawa menjauh dari sekolah, tersisa kuda putih yang tampak masih berlari agresif. Dengan segala cara berusaha untuk menangkap kuda yang masih saja berlari.

Hingga dari arah yang tak diduga bunyi tembakan tepat mengenai kaki kuda, hingga beberapa detik kemudian kuda putih itu tersungkur jatuh ke tanah.

"Hei! Kenapa kuda itu ditembak? Siapa yang kejam menembaknya?" teriak Embun histeris sambil berlari keluar dari kelas menuju halaman tempat kuda itu jatuh dan meringkik kesakitan.

"Aku yang menembaknya, aku pemilik kuda itu," ujar lelaki yang mengenakan baju hitam dengan suara berat dan wajah yang dingin tanpa menatap Embun.

"Oh?  Jadi anda yang bernama Puang Biru? Anda kejam, Puang," ujar Embun sinis di hadapan lelaki itu.

"Kuda ini harusnya tak perlu ditembak, dia seperti kita, punya hak untuk hidup!" teriak Embun histeris sambil berkacak pinggang menghadap lelaki pemilik kuda.

"Tak perlu kau ajari aku. Tak ada yang bisa melarangku menembak binatang milikku sendiri," ujar Puang Biru dengan suara berat tak perduli.

"Karim, aku tak ingin melihat kuda ini di istal milikku. Kau tahu apa yang harus kau lalukan," perintahnya tegas pada seorang yang bernama Karim.

"Baik Puang, terima kasih," ujarnya sambil membungkuk tanda hormat.

Embun yang mendengar sangat terkejut betapa mereka tak mempunyai nurani, bahkan mengucapkan terima kasih pada lelaki sombong dan kejam dihadapannya.

Dengan geram Embun berdiri di hadapan Puang Biru sambil menatap sengit, sementara lelaki itu seolah tidak menganggap Embun ada di hadapannya. Melihat sekeliling sekolah yang kebunnya sudah hancur oleh amukan lima ekor kuda miliknya. Tanpa menoleh sedikitpun pada kuda putih yang meringkuk di tanah sambil meringkik kesakitan.

Tanpa berpamit Puang Biru membalikkan badan berjalan menjauh dari halaman sekolah menuju rumah, dengan gagahnya. Kemudian beberapa orang mengikutinya pergi.

Beberapa saat setelah mereka pergi, Pak Idris dan beberapa guru ikut mendekati Embun yang masih syok dengan kejadian yang baru dialaminya.

"Ibu Guru, berani sekali melawan Puang Biru? Beliau adalah orang penting di pulau ini," ujar Pak Idris dengan suara berbisik.

"Apa? Kalau dia tokoh penting harusnya dia tidak sekejam itu terhadap binatang," balas Embun bergumam.

"Bu Guru, Puang Biru adalah pemilik lahan dan bangunan sekolah kita, kalau tak ada beliau yang membantu tak ada tempat untuk anak-anak belajar di desa ini," lanjut Pak Idris menjelaskan.

Sontak Embun terkejut mendengar penjelasan Pak Idris, dan dengan geram dikepalkannya tangannya seolah meremas kebodohannya sendiri.

*****

Puang Biru sangat marah. Tak pernah ada orang yang berani melawannya, membantah apapun yang diucapkannya apalagi meneriakinya didepan anak buahnya. Tetapi wanita itu mampu berteriak dihadapannya dengan suara yang lantang marah padanya.

"Kurang ajar! Siapa belalang kecil itu berani berteriak di hadapanku!"

"Anak kecil punya nyali, dia berani memandangku seperti itu! Belum pernah aku melihatnya di desa ini," gumam Puang Biru sambil menyulut rokoknya dengan wajah kaku menahan emosi.

"Kuinjak sekali juga pasti hancur dia! Anak setan!" Umpatan yang tertahan membuatnya tambah emosi.

Diisapnya rokok dengan mendalam, embusan lewat hidung membuat asap mengepul tepat di muka Puang Biru. Sambil memejamkan mata diingatnya kembali wajah perempuan yang marah di hadapannya.

Puang Biru sangat yakin belum pernah melihat wajah wanita itu di pulau ini. Tak ada wajah seperti itu, wajah yang menyiratkan ketegasan sekaligus kelembutan, tatapan tajam menusuk yang langsung membuat lawan menjadi tak berkutik. Jujur Puang Biru tak mengira akan diserang oleh seorang wanita kecil di hadapan anak buahnya, hampir saja tangannya akan melayang menampar wajah wanita itu, kalau saja dia lupa bahwa yang dihadapinya itu adalah seorang wanita.

Penghinaan untuk Puang Biru, jadi diputuskannya harus memberi pelajaran pada wanita itu.

Karim duduk di hadapan Puang Biru, setelah memberi laporan bahwa kuda putih itu sudah disembelih, dagingnya dibagikan kepada warga yang membutuhkan tak ada yang tersisa bahkan kulitnya sudah diberikan pada Haji Husain si tukang jagal di pulau ini.

Anggukan puas dari Puang Biru membuat Karim tertunduk lega.

"Satu lagi tugasmu Karim, carilah informasi siapa wanita kurang ajar yang kemarin ada di halaman sekolah itu," suara berat dan mengandung dendam serta amarah.

"Wanita itu adalah guru praktek yang datang dari kota minggu lalu Puang, dia tinggal di rumah Haji Lukman sementara ini. Kalau tidak salah namanya Embun," jawab Karim dengan suara tertahan.

"Anjing! Aku tidak butuh namanya. Aku cuma ingin tahu mengapa dia ada di pulau ini. Dan berani menentangku," ujar Puang Biru emosi.

"Maafkan saya Puang, kemarin Idris sudah memberi tahu padanya siapa Puang. Jadi saya rasa wanita itu tak akan berani menentang Puang lagi," balas Karim.

"Aku harus memberi pelajaran pada wanita kecil itu," ujar Puang geram.

"Katakan pada anak-anak kalian jangan lagi berangkat ke sekolah. Aku tak ingin otak anak-anak di pulau ini menjadi kurang ajar dan tidak beradab bila diajarkan oleh guru macam dia," perintah Puang Biru yang tak bisa disanggah.

Karim menunduk tanda setuju dengan apapun yang diucapkan Puang Biru. Maka Karim berpamit dan langsung menatangi semua warga menyampaikan perintah Puang Biru bahwa mulai sekarang anak-anak dilarang ke sekolah.

Genderang perang sudah terdengar.

 

*****

Sudah pukul delapan pagi, tapi sekolah masih tampak sepi. Embun dan semua guru duduk di ruang guru dengan hati yang cemas. Merasakan ada sesuatu yang tidak wajar hari ini. Tak ada seorang muridpun yang datang ke sekolah.

"Saya rasa ada yang aneh, hari ini tidak tampak seorang pun murid yang ke sekolah," ujar Bu Dina dengan wajah cemas.

"Sayapun merasakan hal yang sama," ujar Embun tak kalah cemas. Sambil terus menatap halaman sekolah.

"Firasat saya tidak enak, sepertinya Puang Biru masih marah karena kejadian kemarin," ujar Pak Idris bergumam.

"Apa? Puang Biru marah? Bukankah kuda putih itu sudah disembelih kemarin sore?" ujar Ibu Aminah dari kursinya.

"Apa? Kuda itu dibunuh? Sungguh kejam lelaki tak punya nurani! Kenapa kuda itu dibunuh?" ujar Embun emosi mendengar bahwa kuda putih yang kemarin ditembak itu sudah disembelih.

"Bukan dibunuh, tapi disembelih dan dagingnya dibagikan ke orang miskin di pulau ini. Puang Biru selalu melakukan hal seperti itu pada hewan peliharaannya yang sudah tidak dia sukai. Kadang domba, sapi, bahkan ayam sering dibagikannya pada warga. Dan kami menganggapnya sebagai berkah," penjelasan Ibu Aminah panjang yang membuat Embun terdiam.

Jadi begini kebiasaan di pulau ini, sikap emosi dan kekejaman menjadi berkah untuk sebagian warga pulau. Dengan disembelihnya hewan peliharaan oleh pemiliknya yang kejam menjadi rejeki untuk warga miskin di pulau ini.

"Ibu Guru Embun, saya harap jangan melakukan apapun untuk melawan Puang Biru. Hari ini kita harus memikirkan bagaimana kita menghadap Puang meminta maaf atas kejadian kemarin. Agar sekolah kembali berjalan, kasihan anak-anak bila tidak belajar," ujar Pak Idris dengan bijaksana.

"Tapi Pak, mengapa kita harus minta maaf? Bukankah dengan cara tidak memberi ijin anak bersekolah justru Puang yang bertindak salah? Kita tidak salah, Pak, " bantah Embun sedikit emosi.

"Bu Guru Embun, marilah berpikir mengalah untuk menang biar semua menjadi damai," balas Pak Idris lembut, disambut anggukan setuju oleh guru yang lain.

"Kalau begitu maafkan saya. Saya tidak bisa ikut menemui Puang Biru," ucap Embun tegas.

*****

Lima orang guru duduk di teras rumah Puang Biru, sore itu mereka menghadap untuk meminta maaf atas kejadian di sekolah.

Puang Biru hanya diam menatap guru satu persatu. Tidak ditemukannya orang yang ia cari. Tetap dengan diam Puang mendengarkan Pak Idris berbicara, tetapi amarahnya semakin menggila.

Setelah mengucapkan niat kedatangan Pak Idris berpamitan, Puang Biru hanya mengangguk sebagai respons.

"Anak kurang ajar! Dia tidak ikut datang menghadapku. Benar-benar dia harus diberi pelajaran," gumam Puang Biru dengan emosi. Entah mengapa, memikirkan wanita kecil yang memiliki nyali besar melawannya kemarin masih membuat Puang Biru menjadi geram.

Antara marah dan merasa tertantang, karena selama ini tak ada orang yang berani menentangnya apalagi wanita.

Di pulau ini Puang Biru adalah penguasa, sejak dulu selalu menjadi orang nomor satu. Pernah dalam hidupnya ia tunduk pada wanita yang kepadanya segalanya ia berikan, tetapi pada akhirnya ia pergi meninggalkannya untuk lari bersama nelayan miskin.

Pergi dari pulau dan tak pernah kembali. Sakit hati, benci, dan amarahlah yang dirasakan Puang Biru hingga hari ini. Sekali dalam hidupnya harga dirinya terkoyak kalah oleh nelayan miskin yang lari bersama istrinya.

Peristiwa itu membuat Puang Biru menjadi orang yang lebih kejam dari sebelumnya. Hanya saat dia berdiri didermaga menatap lautan luas Puang Biru tampak tidak berdaya. Laut selalu membuatnya menjadi lelaki lemah yang kalah. Entah apa yang dipikirkannya hingga yang tampak hanyalah siluet lelaki yang memelihara luka dan kesedihan serta kecewa.

Sementara di pondoknya, Embun duduk di anak tangga paling tinggi. Pondok kayu yang letaknya di ujung paling barat tampak menjorok tak terlihat dari depan pagar halaman milik Haji Lukman. Halaman ini sangat luas, terdapat banyak pohon buah-buahan yang sangat subur. Embun senang berada di pulau ini, tenang jauh dari kebisingan. Tetapi sebenarnya sejak peristiwa kuda di sekolah Embun merasa terusik, oleh perlakuan kasar Puang Biru si penguasa pulau.

Memikirkan Puang Biru membuat dadanya sesak, emosi yang dipendam tetapi tak berdaya menghadapi penguasa kejam itu. Sore ini semua guru mengunjungi rumah Puang Biru yang sombong itu untuk meminta maaf, tetapi Embun menolak ikut karena merasa meminta maaf sama saja dengan mengalah melakukan kesalahan dan kebodohan. Jadi Embun memilih untuk tidak mau ikut. Berharap cemas tentang apa yang terjadi esok, maka Embun menuruni tangga, melangkah menyusuri halaman luas menuju pantai. Embun merasa perlu untuk menenangkan hati dan pikirannya dengan memandang laut lepas.

Dari jauh Riaz berlari mengikuti Embun, lalu duduk di dekat Embun yang sedang melamun.

"Kakak Guru, aku mendengar Kakak bertengkar dengan Puang Biru. Apa itu benar?" tanya Riaz polos.

"Dari mana kau mendengar berita itu?"

"Ummi yang cerita, katanya Babah Karim datang ke rumah melarang adik ke sekolah karena Kakak Guru melawan Puang Biru."

Penjelasan Riaz membuat wajah Embun menjadi dingin menahan emosi. "Jadi benar si tuan sombong itu penyebabnya, pengecut sekali caranya mengintimidasi orang tua murid," ucapnya geram.

"Riaz, apa kau tahu di mana rumah Puang Biru?"

"Riaz tahu. Tapi jangan ke sana, Kakak Guru," ujar Riaz ketakutan.

"Antarkan aku ke sana, Kakak harus ngomong dengannya," ujar Embun sambil berdiri.

"Jangan kakak, jangan melawan Puang Biru," tambah Riaz menghalangi Embun.

"Percayalah padaku. Sekarang antarkan aku ke sana." Embun berdiri dan melangkah menyusuri pantai dengan emosi.

Riaz mengikutinya dari belakang sambil tetap berusaha menghalangi Embun, karena Riaz tahu apa yang akan terjadi bila Embun tetap nekat mendatangi Puang Biru. Telah jauh Embun melangkah dalam diam, menahan emosi dan mengumpulkan energi untuk melawan Puang Biru. Kali ini tindakan Puang sangat keterlaluan dengan kekuasaannya menghalangi anak-anak untuk ke sekolah.

Mendekati dermaga, Embun berhenti. Dilihatnya siluet laki-laki berdiri menghadap laut. Embun mengetahui siapa lelaki itu. Dengan senyum sinis ia mendekat, senang merasa menemukan orang yang dicarinya. Riaz yang melihat mereka dengan keadaan emosi berhenti dan mengawasi apa yang terjadi.

Benar saja, lima langkah di belakang Puang Biru, berdiri Embun di sana, menghentikan langkahnya.

"Puang Biru yang terhormat, sepertinya kita punya masalah yang harus diselesaikan," ucap Embun setengah berteriak agar suaranya terdengar oleh Puang Biru yang berdiri membelakanginya.

"Aku tak ingin diganggu, pergilah," ucap Puang Biru dingin.

"Anda egois, sombong dan kejam! Kenapa anda melarang anak-anak untuk pergi ke sekolah?" ujar Embun meluapkan emosinya.

"Karena aku tak mau anak-anak di pulau ini menjadi bodoh sepertimu," balas Puang Biru tanpa menoleh.

"Ya, tapi kemudian anda mengajarkan anak di pulau ini menjadi kejam dan tidak memiliki nurani seperti anda," teriak Embun.

"Anda mau anak di pulau ini seperti anda? Yang hanya diam berdiri menanti kapal yang tak akan pernah kembali? Menjadi anak cengeng yang hanya hidup untuk kenangan masa lalu?" ujar Embun penuh emosi.

"Kurang ajar! Beraninya kau berkata dan mengusik kehidupanku saat aku bahkan tak pernah tahu siapa kamu. Aku pastikan besok kau harus segera pergi dari pulau ini. Kami tidak butuh guru culas sepertimu!" ujar Puang Biru dengan emosi.

Entah kekuatan apa yang menyebabkan Embun melangkah kearah Puang Biru, ia menarik lengan baju lelaki itu dan memukul badan, pundak, serta mencakar wajah Puang Biru tanpa terkendali.

Puang Biru yang mendapat serangan seperti itu, kaget dan berusaha bertahan semampunya. Dengan gampang ditariknya tangan Embun ke belakang lalu ditahannya di belakang punggung Embun hingga dia tak bisa bergerak lagi.

Embun masih meronta, kesal diperlakukan seperti ini. ia berteriak frustrasi, mengatakan Puang egois dan bodoh. Di antara angin Puang tetap menahan tangan Embun, hingga wanita itu lelah dan tidak berontak lagi, hanya menyisakan tangis.

Menyadari wanita itu menangis, Puang Biru melepaskannya dan membiarkan Embun terjatuh di lantai dermaga.

"Bahkan aku tak pernah mengenalmu, jangan kau buat aku menjadi emosi seperti anak kecil. Jangan pernah mengusik kehidupanku, apalagi masa laluku," ucap Puang Biru dengan suara berat. Ia kemudian melangkah pergi meninggalkan Embun yang menangis menahan sakit di lantai dermaga.

Setelah Puang Biru menghilang, Riaz berlari menghampiri Embun yang duduk bersila di lantai dermaga sambil menangis.

"Kakak Guru tidak apa-apa?" tanya Riaz cemas.

"Dia sombong sekali," ujar Embun dengan suara pelan di tengah isak tangisnya.

"Sepertinya aku harus pergi, dia mengancam aku harus segera pergi dari pulau ini," lanjut Embun.

"Temani aku duduk di sini, aku ingin menikmati laut sebelum aku pergi," ucap Embun dengan air mata berurai. Sepanjang senja hingga malam Embun duduk di dermaga menikmati angin laut dalam diam.

Sementara itu di rumahnya, Puang Biru duduk menikmati rokoknya dengan menahan emosi. Berpikir tentang wanita yang baru saja mencakarnya, tak ada rasa sakit karena tangan yang memukulnya seperti tangan bayi di tubuhnya, tetapi Puang Biru mengingat ucapan wanita itu yang berani mengusik masa lalunya.

Hal yang paling dia hindari adalah semua yang mengingatkannya tentang luka hati yang belum sembuh. Memikirkan wanita yang lebih pantas menjadi anaknya, berani mengusiknya dengan ucapan yang menyakitkan hati.

Bagaimana seorang anak kecil memiliki nyali besar untuk menentangnya. Malam ini dingin dengan angin kencang Puang Biru melangkah keluar menuju pantai, tanpa pikir panjang dia menceburkan diri ke laut berenang untuk mendinginkan kepala dan hatinya. Kebiasaan yang selalu dia lakukan bila sedang tak enak hati. Dari tempatnya berenang Puang Biru menoleh ke arah dermaga, masih dilihatnya wanita itu duduk di lantai dermaga.

"Anak keras kepala! Mau apa dia malam-malam duduk di dermaga?" gumam Puang Biru pada dirinya sendiri. Dari jauh diperhatikannya terus apa yang dilakukan Embun.

"Hmm, anak kecil itu punya nyali rupanya," ucap Puang sambil tersenyum.

Ada desir di dadanya, yang entah mengapa membuatnya menyukai Embun dengan kemarahan yang meledak-ledak. Hanya Embun yang berani melawan dirinya, bahkan berani memukulnya, diusap wajahnya yang masih menyisakan rasa perih akibat luka cakar dan terkena air laut. Dinikmatinya perih itu dengan senyum tipis yang entah pertanda apa.

Bayangan Embun yang marah dengan mata menyala, telah membius Puang Biru, suara ledakan yang terasa menggema membuatnya tersenyum tak disangkanya akhirnya ia bisa tersenyum hanya membayangkan kemarahan anak kecil itu padanya. Sejenak Puang Biru terdiam. Ia berusaha menghalau bayang-bayang Embun di kepalanya. Susah, dan pada akhirnya dibiarkannya pikirannya berjalan sendiri.

Ini sungguh aneh, bahkan kini Puang Biru tertawa terbahak melihat anak kecil itu masih duduk di dermaga dengan rasa marah padanya.

"Rasa apa ini? Mengapa aku tertawa?" gumam Puang Biru pada dirinya.

*****

Suasana di sekolah sangat sunyi dan tegang. Di ruang guru berkumpul semua guru. Menanti kehadiran murid-murid tetap tak kunjung datang. Semua guru sibuk dengan pikirannya masing-masing.

"Bagaimana ini, sudah seminggu kita tidak mengajar anak-anak masih belum boleh bersekolah," ujar Bu Dina pelan.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ibu Aminah gusar.

"Kita sudah mendatangi Puang Biru untuk meminta maaf, tetapi dia sepertinya tidak memaafkan kejadian siang itu," balas Pak Taufik guru kelas 4.

"Sepertinya dia ingin Bu Guru Embun yang meminta maaf padanya," ujar Ibu Aminah sambil menatap Embun yang duduk di mejanya.

"Aku? Mengapa harus aku?" ujar Embun bingung.

"Iyalah harus Bu Embun, karena masalah ini kan diawali dari Ibu," ujar Ibu Dina dengan emosi.

"Kalau saja siang itu Bu Embun tidak melawan Puang, kejadian ini tidak akan terjadi."

"Anak-anak pasti tersiksa ingin sekolah, tetapi dilarang oleh orang tuanya," sahut Bu Aminah.

"Mengapa orang tuanya mau saja diatur oleh Puang Biru? Bukankah itu menjadi tanggung jawabnya?" tanya Embun.

"Hei, dengarkan Ibu Guru Embun yang baik hati, setengah dari pulau ini adalah milik Puang Biru, bahkan para orang tua murid menempati tanah milik Puang Biru, menggarap ladang milik Puang Biru, dan semua nelayan di pulau ini melaut mencari ikan dengan kapal milik Puang Biru, bahkan sekolah ini adalah milik Puang Biru yang kau anggap sombong itu. Jadi apa yang kau simpulkan? Mengapa mereka menghormati Puang Biru? Iya, karena mereka bisa hidup dari belas kasihan Puang Biru," ucap Ibu Dina dengan penekanan berusaha memberitahu Embun siapa Puang Biru yang dia lawan menjadi musuh itu.

"Bahkan kami lebih memilih Bu Guru Embun untuk kembali ke kota, agar anak-anak bisa sekolah kembali. Ingat Bu Embun, ini demi anak-anak kita semua," ujar Ibu Aminah penuh emosi.

Sontak semua guru terkejut dengan ucapan Ibu Dina dan Ibu Aminah terhadap Embun. Pak Idris yang sejak tadi diam akhirnya berdiri.

"Sudahlah kita jangan terbawa emosi, semua harus diselesaikan dengan kepala dingin. Kita jangan ribut menghadapi ini," ujar Pak Idris bijaksana.

Dengan diam tertunduk Embun akhirnya berdiri dan berkata, "Baiklah demi anak-anak agar bisa kembali bersekolah, aku akan menemui Puang Biru dan aku siap untuk pergi dari pulau agar semua kembali seperti kemarin. Maafkan saya karena membuat kekacauan, mengakibatkan anak-anak tidak sekolah dan membuat semua guru menjadi susah. Sore ini saya akan menemui Puang Biru, dan besok pagi saya akan kembali ke kota dengan kapal pertama. Sekali lagi maafkan saya sudah membuat kacau," ujar Embun dengan suara pelan penuh penyesalan.

Seluruh ruangan menjadi hening.

*****

Langkah kaki Embun pelan menyusuri dermaga. Embun tahu di mana harus menemui Puang Biru dan meminta maaf padanya. Telah disusunnya apa yang akan diucapkannya sebagai permintaan maaf atas kejadian yang melibatkan pertengkaran mereka, serta tak lupa Embun akan meminta Puang Biru untuk memperbolehkan anak-anak untuk bersekolah kembali.

Diaturnya napasnya agar emosinya menguap. Ia sudah berdiri di belakang lelaki itu.

"Puang Biru, saya ingin berbicara. Maafkan saya atas kelancangan saya kemarin melawan Puang, dan sore ini saya memohon maaf atas segala tindakan saya. Saya mengundurkan diri dari sekolah, besok saya kembali ke kota meninggalkan pulau ini. Jadi saya mohon ijinkan anak-anak kembali ke sekolah karena saya sudah tidak mengajar lagi di sekolah," ujar Embun dengan suara tercekat oleh isak tangis.

Seketika Puang Biru berbalik menghadap Embun yang berdiri menunduk sambil terisak. Diraihnya bahu Wanita itu untuk menatapnya, dengan tatapan penuh emosi dipalingkannya wajahnya mendengus menghadap laut lepas seolah membuang segala amarahnya.

Dengan suara beratnya Puang Biru berkata, “anak bodoh, aku kira kamu perempuan kuat, keras kepala dan pemarah seperti api ternyata kamu tetap bisa menangis. Mana suara lantangmu? Kenapa kamu menyerah?" teriak Puang Biru pada Embun.

"Demi anak-anak saya sudah putuskan untuk pergi dari pulau ini. Biarlah saya kalah tetapi anak-anak bisa kembali bersekolah" ujar Embun lirih meski ia masih berusaha mengontrol dirinya dari keterkejutan mengenai respons Puang Biru yang tidak disangka-sangka olehnya.

Tiba-tiba seperti ada yang menusuk hati Puang Biru mendengar keputusan Embun untuk menyerah dan pergi meninggalkan pulau ini. Entah rasa apa dirasakan Puang Biru, tapi ia tak dapat berkata apapun. Yang ia tahu hanyalah sakit yang pernah ia rasakan kembali hadir.

"Kenapa kamu harus pergi?" tanya Puang Biru dengan suara pelan.

"Karena sudah waktunya saya pergi," balas Embun pelan.

"Bukankah saya tidak pantas mengajar di pulau ini? Pilihannya hanya ada dua. Pergi dan melihat anak-anak kembali bersekolah atau tetap diam mempertahankan ego tetapi anak-anak itu menjadi korban tidak sekolah. Saya memilih yang pertama demi anak-anak itu," ujar Embun tegas sambil menatap lelaki di hadapannya.

"Kau anak kecil membuatku gila!" Teriak Puang Biru melepas emosi.

Embun tak mampu berkata apapun, air mata sudah memberinya sedikit ketenangan. Entah apa yang membuatnya menangis Embun tak mengerti. Apa karena ia akan meninggalkan pulau indah ini? Atau justru karena lelaki di hadapannya yang tiba-tiba membuat dunia menjadi terbalik?  

Tak disangka Puang Biru meraih Embun dalam dekapannya, dibiarkan gadis itu menangis dalam peluknya. Dalam diam mereka berdua akhirnya duduk menikmati senja di dermaga. Tak ada kata yang keluar dari mulut mereka. Puang Biru duduk sambil merokok menatap laut dan Embun di sampingnya duduk diam terkunci juga menatap laut lepas. Sinar senja melukiskan siluet indah pada alam tentang kisah mereka berdua.

Bahkan mereka tidak pernah tahu sejak kapan rindu dan takut kehilangan itu hadir di antara mereka berdua. Mungkin saja menyusup di antara benci dan amarah. Sungguh aneh, bagaimana hati dan perasaan begitu cepat berubah.

Bahkan mereka tidak pernah membutuhkan penjelasan tentang rasa yang mereka miliki saat ini, semua datang dengan tiba-tiba. Yang mereka tahu hanyalah bahwa takut kehilangan.

"Anak kecil, sekarang aku tahu siapa yang aku tunggu kembali pulang di dermaga ini."

"Baik-baiklah di sana, segera kembali karena aku menunggumu di sini." Ucapan lelaki yang kemarin masih sangat dibencinya itu kini terdengar begitu indah bagi Embun. Ia mengangguk samar.

Puang Biru, lelaki yang lebih pantas menjadi ayahnya itu telah membuatnya tersenyum. Tapi ia tersadar, bukankah umur itu hanya soal angka? Selebihnya adalah bagaimana saling mengisi jiwa dengan ketulusan. Puang Biru membuatnya merasakan desiran itu, begitupun sebaliknya. Mereka saling melengkapi, saling menunggu satu sama lain untuk pulang.

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.