Sudah Selesai

Cinta itu tidak sombong

Sudah Selesai
Foto oleh Binny Buchori

 

 

Kalimat apakah yang paling tepat digunakan untuk menggambarkan perasaan seseorang   ketika hal yang sangat berharga baginya terbang, menghilang namun tetap meninggalkan beribu perasaan dalam lubuk hati yang paling dalam? Perasaan itulah yang terjadi pada Nani, saat siang itu ia membaca e-mail Ratna  kepada suaminya.

“Masku  tersayang, Ratna  melepaskan kepergian mas kemarin dengan hati gelisah. Maklum dokter bilang mas terkena gejala tipus, jadi obatnya harus banyak istirahat dan makanannya juga diatur, gak boleh yang keras, gak boleh berminyak… Mama sampai membikinkan bubur tuh untuk mas…

Tapi baiklah, Ratna  gak akan mengomel lebih lanjut lagi. Karena Ratna bahagia mas mau Ratna ajak ke dokter, istirahat di rumah (meski belum cukup sih) dan minum obat dari dokter. Selamat jalan ya mas. Sampai di Manila nanti jangan lupa bilang ke panitia bahwa mas sebenarnya sedang berobat jalan, jadi harus banyak istirahat. Mas mesti bisa mendengarkan bahasa tubuh, kalau kecapean sampaikan ke panitia bahwa mas harus istirahat. Pokoknya mas gak boleh sakit, kalau perlu, Ratna  telpon panitianya, awas kalau mereka bikin mas-ku  sakit….”

Kalimat selanjutnya sudah tidak jelas bagi Nani, kabur oleh air mata yang terus mengalir tanpa bisa dihentikan.  Hati Nani sakit, serasa ditusuk sembilu. Tangisnya pecah bukan karena suaminya  ketahuan selingkuh, karena perselingkuhan Ratna dengan suaminya sudah lama ia ketahui, lebih dari 2 tahun. Yang membuat Nani merasa pilu adalah kalimat-kalimat yang begitu lembut, penuh perhatian, penuh cinta. Dan bagaimana suaminya takluk kepada Ratna, bahkan sudah akrab dengan ibunya Ratna. Bagi Nani, e-mail itu   adalah pesan penuh cinta, penuh sayang, dan bukan sekedar bertukar kabar  antara 2 orang yang terlibat affair.

Nani  sudah menikah 7 tahun, dan sebelumnya berpacaran 3 tahun. Jadi sudah 10 tahun Nani dan Hari bersama. Nani yakin ia cukup mengenal Hari, suaminya.  Hari, pria tampan berusia  37 tahun dengan tinggi 178 cm itu memang  sangat mudah bergaul dan selalu populer di mana pun ia berada.

Meskipun ramah, Hari  tidak mudah membuka hati dan menunjukkan sisi vulnerability nya. Ia penuh perhatian, tetapi tidak mudah diperhatikan.  Dalam keadaan sakit, misalnya, Hari  amat sulit disuruh istirahat, atau diminta minum obat, apalagi diajak ke dokter. Tapi dengan Ratna, ia mau dirawat, diajak ke dokter, minum obat, bahkan menurut pada nasehat ibu Ratna. Artinya sangat jelas buat Nani: Hari, suaminya yang sangat dicintainya,  telah membuka hatinya, dan Ratna telah berhasil masuk ke dalam lubuk hati Hari  yang paling dalam. Mereka saling mencintai, dan telah terjadi ikatan batin

Nani merasa seluruh tubuhnya lemas. Tiba-tiba terasa ada lubang dalam yang menganga dalam hatinya dan ada suara lama-lamat dari dalam “perkawinanmu telah selesai…”

Nani mengusap air mata, berjalan perlahan meninggalkan kamar kerjanya. Indah, sahabatnya sejak kuliah, yang hari itu main kerumah Nani memeluknya, kemudian membimbingnya ke teras. Nani menatap halaman mungil dengan  hamparan rumput hijau,  ditanami dengan  beberapa tanaman hias, pohon kamboja jepang dengan bunga merah fanta, bunga sepatu merah jambu, serta perdu alamanda yang mulai terlihat kuncup kuning. Halaman kecil nan asri adalah hasil kolaborasi Nani dan Hari. Nani, perempuan berusia 34 tahun  dengan wajah bulat, dan potongan rambut pendek stylish di bawah kuping,  masih berusaha memahami suara hatinya: “perkawinanmu telah selesai.” Benarkah? Benarkah ia tidak memiliki lagi kesempatan untuk melanjutkan perjalanannya dengan Hari, mengayuh perahu kehidupan bersama-sama?

*******

Perkawinannya dengan Hari tidak pernah membosankan. Selalu ada gelombang turun-naik, ada badai, namun selalu saja ada angin lembut yang menghantarkan mereka kembali ke tepi pantai, merapat ke perahu dan mengayuhnya kembali bersama.

Sebagai lazimnya perkawinan, tentu saja ada pertengkaran, salah paham  dan kecurigaan terhadap kesetiaan. Beberapa kali Nani diberitahu teman-temannya bahwa Hari terlihat memeluk mesra perempuan lain di sebuah restoran. Kali lain ada yang menyampaikan bahwa Hari terlihat bergandengan tangan dengan perempuan lain lagi di lobby hotel. Nani selalu menanyakan kebenaran hal tersebut  kepada suaminya. “Ah itu  teman baik, maaf belum sempat aku kenalkan padamu, sayang,” jawab Hari. “Tidak mungkin temanku salah lihat, kamu ternyata tidak pernah berubah, kembali ke habit awal. Bukan sekali ini saja. Orang sudah memergokimu berkali-kali !!!” jawab Nani sengit sambil melemparkan buku tebal ke arah Hari, yang dengan sigap menghindar.

Pertengkaran seru pun tidak terhindarkan. Namun selalu saja Hari berhasil menenangkan Nani dan kehidupan mereka berjalan seperti biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Setelah pertengkaran, selalu ada masa kemesraan yang dalam, sehingga Nani makin lengket dengan Hari.

Nani tahu bahwa Hari berbohong; bahwa  Hari  selingkuh dengan perempuan lain, namun pada saat yang sama ia merasa tidak sanggup berpisah dengan Hari. Dari sejak mereka masih kuliah, Nani sudah mengetahu sifat Hari yang gonta-ganti pacar dan juga sering memiliki beberapa pacar pada saat yang sama.  “Hati-hati dengan Hari,” itu kata semua orang ketika Nani mulai berkencan dengan Hari. Namun cara-cara Hari mendekati Nani dengan sabar, tidak pernah memaksa, memahami sifat Nani, mimpi-mimpi Nani serta juga mendekatkan diri kepada sahabat dan keluarganya , membuat Nani menjadi luluh.  Begitulah, mereka menikah. Dan selalu saja ada perempuan lain yang dikencani oleh Hari, namun umur hubungan itu tidak pernah lama.

3 tahun yang lalu Hari mengajak Nani makan siang di sebuah restoran favorit mereka yang terkenal dengan ikan gurame terbang, serta sayur asamnya yang lezat. “Aku ingin mengenalkanmu ke seorang perempuan hebat,” kata Hari. “Lho apa urusannya dengan aku?” tanya Nani yang  sudah 4 tahun ini merintis perusahaan konsultan dalam bidang pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia. “Ratna ini konsultan lepas untuk CSR (corporate social responsbiltity), jadi dia banyak kenalannya di perusahaan2, bisa bantu usahamu untuk dapat client,” jelas Hari, yang bekeja di perusahaan perkebunan sawit sebagai  Company Reputation Director. “Pacarmu ya ?” tanya Nani dengan nada sewot. “Sudahlah, kok curiga aja,” ucap Hari menutup pembicaraan. 

Makan siang hari itu ternyata menyenangkan. Ratna yang dalam perkiraan Nani  berumur sekitar 30-31 tahun, itu sangat ramah. Ratna tampak sangat menarik. Celana panjang  hijau tua model gombrong dan atasan dari kain tenun warna krem sangat serasi dengan profil wajah Ratna  yang eksotis dibingkai rambut lurus lebat sepanjang bahu. Seperti penjelasan Hari, Ratna memiliki banyak relasi dengan perusahaan swasta dan BUMN, dan dengan murah hati menawarkan bantuannya kepada Nani.

Sejak saat itu mereka berteman. Nani dan Ratna sering mengerjakan proyek bersama, kadang-kadang mereka berdua juga membantu Hari.  Nani menikmati persahabatan ini, serasa memiliki adik perempuan sekaligus rekan kerja dan teman curhat. Nani tidak merasa janggal bahwa seringkali Ratna tiba-tiba datang bersama dengan Hari; atau  menerima berbagai oleh-oleh dari Ratna melalui Hari.

 “Benar mereka teman biasa? Kamu ini kok nggak belajar sih dari pengalamanmu yang lalu?” tanya Indah sahabatnya. “Jangan-jangan mereka pacaran, lanjut Indah. “Enggak lah, masa tega sih, kan Ratna udah kayak adikku sendiri,” sanggah Nani, meski pun dalam hati ada perasaan sedikit was-was. “Dalam banyak kasus perselingkuhan, suami atau istri  berselingkuh dengan orang terdekat. Kamu coba pakai mata-hati deh, jangan kacamata kuda,” kata Indah yang sudah mulai mendengar berbagai gosip mengenai Ratna dan Hari.

“Seandainya pun mereka pacaran, itu tidak akan lama. Affair aja. Selama ini  juga begitu” jawab Nani dengan nada defensive. Indah menarik nafas dalam. Indah yang sudah lama bersahabat dengan Nani,  tidak tahu lagi bagaimana membuka mata Nani. Indah, perempuan dengan wajah lonjong   serta rambut berombak sepanjang bahu ini tidak menyerah: “Coba kamu pikir, sudah berapa lama kalian bertiga berteman? Dan sudah berapa lama Ratna ada dalam hidupmu?” lanjutnya. "1 tahun lebih sih," jawab Nani dengan menundukkan kepala. Indah tidak melanjutkan percakapan. “Semoga Nani bisa keluar dari situasi self-denial ini dan melihat situasi perkawinannya dengan jernih,” harap Indah.

Bulan berganti tahun, Ratna tetap ada di antara Nani dan Hari. Makin banyak info yang menghampiri Nani mengenai perselingkuhan mereka. Pertengkaran antara Nani dan Hari makin sering. Hari tetap menyangkal “Ratna itu sudah seperti adikku, jangan cemburuan gitu.”

Nani meradang, meninggalkan rumah beberapa kali, lari  ke rumah orang tuanya, namun selalu kembali begitu Hari menjemput dan menyatakan penyesalan dengan berurai air mata. Lalu siklus pun berulang: bulan madu menghampiri Nani  untuk beberapa saat, sampai suatu hari Nani menemukan   kotak perhiasan  berisi leontin emas berbentuk huruf “R”di antara baju-baju Hari. “Kita cerai saja Hari, aku Lelah…!” teriak Nani sambil melempar baju-baju Hari. “Kenapa jadi kalap sih?” Itu leontin memang milik Ratna, agak rusak. Dia minta tolong untuk dibawa ke toko emas,” jawab Hari kalem. “Pergiiiii !!!!!” teriak Nani. Hari berusaha untuk membujuk Nani, namun kali itu rayuan Hari tidak mempan.

Malam itu Hari tidak pulang.  Nani merasakan kekosongan, sakit dan sekaligus kerinduan kepada Hari. Rasa marah, sakit dan kecewa silih berganti dengan kerinduan dan ingatan pada masa-masa indah yang dilaluinya bersama Hari. Ketika seminggu kemudian Hari muncul, Nani merasa lega dan menerima lagi permintaan maaf Hari.

Nani tahu hubungan ini tidak sehat, tetapi ia tak sanggup melangkahkan kakinya ke luar,  Nani masih yakin, bahwa ia dan Hari masih berada dalam satu perahu, masih memiliki cita-cita yang sama. Bukankah Hari selalu menjemputnya? Bukankah Hari selalu pulang, dan tidak pernah mau membicarakan perceraian? Bukankah ini menunjukkan bahwa Hari tetap memilihnya sebagai istri, dan tidak memilih Ratna? Sebagai istri, Nani lah yang dibawa ke publik, ke keluarga, ke rekan kerja, sahabat, sedangkan Ratna, selalu berada dalam ruang gelap.  “Biarlah Ratna jadi selir, dan bergelap-gelap dengan Hari,” kata Nani dalam hati.

********

Namun e-mail yang ia baca meruntuhkan semua keyakinannya, kesombongannya sebagai istri. Ratna tidak berada di ruang gelap, Ratna sudah masuk ke ruang publik. Bisikan itu terdengar  lagi “perkawinanmu sudah selesai,” Nani termangu. “Sanggupkah aku meninggalkan perahu yang sudah aku kayuh bersamanya selama 10 tahun?” Nani kembali mengusap air matanya.

 “Kadang kita harus mengambil langkah yang awalnya terasa menakutkan, tetapi pada kenyataannya tidak mengerikan seperti yang kita bayangkan,” kata Indah, yang sudah duduk di sampingnya di teras. “Coba kau  lihat ke luar. Sekarang hampir gelap kan? Kalau kita buka pintu pagar, lalu jalan ke luar, rasanya kita takut, karena gelap. Tapi setelah kita jalan, ternyata ada lampu jalan, lalu kita teruskan lagi, kita melihat pos satpam, dan kita teruskan, kita lihat ada warung dan cahaya lampu dimana-mana,” lanjutnya.

Nani terdiam mendengarkan penjelasan Indah. Betapa kuat pesan yang disampaikan oleh Indah. Meskipun meninggalkan perahu terasa berat, namun akan ada jalan pantai yang akan membawanya sampai ke sebrang pulau.  “Camkanlah pesanku ya, aku pamit,” kata Indah berdiri memeluk Nani.

Hari-hari dan minggu-minggu berikutnya merupakan masa-masa perenungan  bagi Nani. Cinta antara Ratna  dan Hari adalah sebuah kenyataan. “Masih adakah ruang bagiku untuk menganyam harapan dalam ruang perkawinanku? Apa sebenarnya yang ingin aku pertahankan?" tanya Nani kepada dirinya. “Sampai kapan aku mampu bertahan dalam keadaan ini? Berada dalam hubungan yang toxic, tidak sehat,” tanya Nani kepada dirinya.  Saat ini ia  melihat perkawinannya  bagaikan bangunan pasir yang rapuh dan kapan pun bisa lenyap karena sapuan angin.  Tiba-tiba segalanya menjadi jelas bagi Nani. Sudah  tiba waktunya melangkah ke luar pagar, menyusuri jalan yang nampaknya gelap tetapi akan membawanya  ke tempat terang. Biarkanlah Ratna dan Hari  membangun sejarah mereka.

****

 “Hari, ada yang ingin kusampaikan,” kata Nani  pagi itu. Mereka baru saja menyelesaikan sarapan pagi. Hari meletakkan cangkir kopi yang baru saja dihirupnya . Hari memandang Nani, menggengam tangan Nani dengan lembut, “ada apa sayang?” tanya Hari.  Nani menarik  nafas, “aku akan meninggalkan rumah hari ini. Tolong jangan cari aku. Ini demi kebahagiaanku, dan kebahagiaanmu. Pengacaraku akan menghubungimu untuk mengurus perceraian kita.”

Hari terkejut, terdiam, kemudian matanya berkaca-kaca, butiran air mata mulai jatuh. Nani beranjak dari meja makan, menjauh. Hari segera berdiri, memeluk Nani “jangan pergi… aku tidak mau berpisah darimu. Aku memang bersalah. Percayalah, Ratna dan aku tidak ada hubungan apa-apa…” kata Hari terbata-bata.

Nani menatap wajah Hari, wajah yang tampan, yang sangat dicintainya , dan yang akan selalu terpateri di dalam hatinya   Dengan suara tenang, tanpa amarah Nani berkata : “ Ini tentang aku dan kamu,  bukan tentang Ratna. Cerita kita sudah selesai. Sudah tutup buku. Tolong lepaskan aku.” Akhirnya dengan susah payah Nani  bisa melepaskan diri dari Hari. Nani  berjalan  meninggalkan rumahnya , rumah mereka,  perkawinannya , menutup sejarah mereka. Hatinya  hancur, Nani terluka. Namun ia meyakini kehancuran dan luka ini kelak akan menjadi perhiasan yang indah dalam jiwanya. Nani yakin dia akan bahagia, akan baik-baik saja, karena cinta itu bukan luka.