Alis

Sekar Kinasih namanya. Rambutnya potong pendek, dengan poni sebatas alis, dan semacam cambang kecil di depan masing-masing dua telinganya. Rambutnya tidak seperti pepatah Jawa yang 'ngandan-andan'.

Alis
Sumber: https://d3t543lkaz1xy.cloudfront.net

Kulitnya tidak putih. Cenderung hitam manis. Di kedua lengannya, dekat ke jemarinya, dihiasi bulu tangan yang seperti arsiran pensil rapi ke arah luar. Aku suka mencuri-curi lihat diam-diam. Tingginya tidak semampai, cenderung kecil mungil, kurus dan tidak body gitar. Nah, alisnya. Alisnya biasa saja. Tidak tipis tidak tebal. Tidak juga 'nanggal sepisan'. Tapi aku suka memandangnya lama-lama. Terutama pangkal alisnya di wilayah kening dekat dengan pangkal hidung yang agak random dengan helai-helai alis kesana-kemari. Apalagi jika Sekar abis ambil air wudlu entah mau sembahyang atau sudah sembahyang. Alisnya ituu lhoo... setiap helai alisnya seakan-akan ikut berwudlu, basah kena air suci. Itu bikin aku deg-degan.  Biasanya aku nungguin dia dan alis indahnya itu di dekat mushalla dekat kantin di sebelah ruang praktikum Kimia kelas Fisika.  A1-2. Tetangga kelasku. Aku di Bio-7. Ibu lah yang mendorongku untuk ambil jurusan A2 karena beliau sangat ingin aku jadi dokter. Nggak taunya aku lebih suka buka usaha sendiri. Bukan salah Ibu, karena aku tahu Ibu selalu mencintai putra bungsunya ini lebih dari apapun. Dan aku turuti kehendak Ibu.

Kalau Sekar tahu sedang kukuntit, biasanya dia akan menciptratkan air wudlu di tangannya ke mukaku. Atau, dia akan bilang gini,

"Samuel, ngapain lo bengong di situ. Sana gih ambil air wudlu. Sholat ..." ujarnya sambil tergelak. Dia tau aku bukan muslim. Dia tau juga aku fans beratnya.

Biasanya aku nyengir sambil menjawab sekenanya.
Begini:

"Tapi boleh pinjem mukenamuu ..?"


Atau begini:
"Nggak ah lagi datang bulan.."


Atau begini:
"Udah tadi, digabung ama sembahyang Subuh"

Bila air wudlu Sekar mendarat di permukaan kulit mukaku, biasanya aku akan berujar apa saja dengan gaya teatrikal. Kadang sajak atau lirik lagu yang lagi sering kedengeran di radio. Dan aku tau, Sekar suka Rumi.

"Bukan hanya haus yang mencari aiirr...
Air punn mencari hauusss.
Maulana Jalaludin Rumi."

Biasanya, dia akan mendelik ke arahku, dan meletakkan telunjuknya di bibirnya sendiri. Itu adegan favoritku.

Sekar nggak pernah marah meskipun aku sering konyol seperti itu. Tidak, tidak. Kami bukan sepasang kekasih. Aku hanya mencintai (atau naksir atau menyukai) Sekar dengan caraku. Kami juga tidak pacaran. Sekar tidak pernah menanggapi seluruh 'usaha'-ku. Tapi dia tetap Sekar yang baik. Yang manis dan cantik dan pintar. Dan aku maksimal hanya gusar namun nggak sampai sakit hati. Menurutku, dengan sebongkah besar kadar ke GR an yang 'kugembol' di dadaku Sekar lebih cukup tau diri (daripada aku) karena keyakinan kami berbeda. Hahaha.

Itu dulu. Zaman SMA.

Sekarang, aku sedang duduk di ruanganku, sebuah ruangan yang cukup luas dengan pintu a la kantor minimalis kekinian bertuliskan namaku: Samuel Rahadidarma Hadiwasito. Sekretarisku baru saja bilang, ada Ibu Sekar Kinasih, CEO sebuah perusahaan start up digital yang cukup punya nama di Indonesia sedang meeting dengan Group Head Divisi Digital Product Development perusahaan yang kupimpin. Rahina Pasupati, stafku, Group Head yang memimpin rapat itu memintaku bergabung melalui sekretarisku karena tadi aku sedang online. Aku tau pasti itu Sekar Kinasih 'yang itu', karena sekretarisku melengkapi infonya dengan CV Sekar dengan lengkap (termasuk data diri, alumni, dan prestasinya), meskipun tanpa foto.

Apakah Sekar masih punya alis seindah dulu? Atau sudah terpoles alis cetar ala wanita sekarang, atau bahkan sudah diganti dengan alis sulam?